Prof. Rokhmin Dahuri: Transformasi Akuakultur Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Indonesia Emas 2045
SEMARANG, 21 Oktober 2026 — Indonesia perlu melakukan transformasi menyeluruh dalam pengembangan akuakultur agar sektor ini mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, saat menyampaikan pidato kunci pada The 12th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2026 yang berlangsung di Hotel Tentrem, Semarang, pada 21–22 Oktober 2026.
Di hadapan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr. TB Haeru Rahayu, para akademisi, pakar internasional, serta perwakilan industri akuakultur, Prof. Rokhmin menyoroti pentingnya menempatkan akuakultur sebagai bagian strategis pembangunan nasional. Menurutnya, sektor ini memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menyediakan ikan dan produk perikanan untuk konsumsi.
Akuakultur dinilai berpotensi mendukung ketersediaan pangan bergizi, membuka lapangan kerja, mendorong pengembangan industri berbasis sumber daya akuatik, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan inovasi dan teknologi, sektor ini juga berpeluang berkontribusi terhadap pengembangan produk farmasi, energi, dan berbagai bahan baku industri masa depan.
Akuakultur Mengubah Lanskap Pangan Dunia
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menekankan bahwa perkembangan akuakultur telah mengubah peta produksi pangan akuatik dunia. Ia merujuk pada laporan FAO The State of World Fisheries and Aquaculture 2026, yang dalam materi presentasinya disebut mencatat produksi perikanan dan akuakultur global sebesar 235 juta ton pada 2024.
Untuk pertama kalinya, akuakultur melampaui perikanan tangkap dalam produksi hewan akuatik, dengan kontribusi sekitar 103 juta ton atau 53 persen dari total produksi yang dirujuk.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa budidaya akuatik semakin menentukan kemampuan dunia memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Ke depan, kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence), Internet of Things (IoT), robotika, blockchain, dan rekayasa genom dapat memperluas kemampuan sektor ini dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta kualitas hasil produksi.
Prof. Rokhmin juga menyoroti peluang pengembangan komoditas pangan yang tidak terbatas pada ikan, udang, dan organisme akuatik lainnya. Ia menyinggung riset budidaya padi toleran salinitas sebagai ilustrasi bagaimana inovasi ilmiah dapat memperluas pemanfaatan lingkungan perairan untuk mendukung diversifikasi pangan. Klaim mengenai praktik budidaya padi di air laut tetap perlu merujuk pada penelitian spesifik agar tidak menyamakan padi toleran salinitas dengan padi yang sepenuhnya dibudidayakan menggunakan air laut.
Potensi Besar Indonesia Membutuhkan Pembenahan Sistem
Indonesia memiliki sumber daya perikanan dan wilayah budidaya yang sangat besar. Dalam presentasinya, Prof. Rokhmin menyebut produksi perikanan nasional mencapai 26,26 juta ton pada 2025, dengan nilai ekspor sebesar US$6,27 miliar.
Namun, besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan dan daya saing industri. Sejumlah persoalan masih menjadi tantangan, mulai dari produktivitas usaha tradisional, mahalnya pakan, risiko penyakit, keterbatasan akses pembiayaan, hingga belum optimalnya integrasi antara kegiatan produksi dan pengolahan.
Menurut Prof. Rokhmin, keberhasilan pembangunan akuakultur tidak cukup diukur melalui volume produksi. Indikator yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan sektor tersebut meningkatkan pendapatan pembudidaya, menciptakan kesempatan kerja, memperkuat ekonomi nasional, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pandangan ini menempatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas ekosistem sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda peningkatan produksi.
Tujuh Transformasi untuk Membangun Akuakultur Berdaya Saing
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Rokhmin menawarkan tujuh transformasi strategis sebagai arah pengembangan akuakultur Indonesia. Gagasan tersebut menekankan pentingnya keterpaduan antara aspek ekologis, teknologi, industri, kelembagaan, dan kesejahteraan pelaku usaha.
Salah satu prioritasnya adalah pengembangan budidaya berdasarkan daya dukung lingkungan dan tata ruang yang disusun melalui kajian ilmiah. Pemanfaatan wilayah pesisir harus mempertimbangkan kesehatan ekosistem, kualitas perairan, serta kemampuan lingkungan menopang kegiatan produksi dalam jangka panjang.
Ia mencontohkan upaya integrasi rehabilitasi mangrove dan budidaya perikanan yang bertanggung jawab di kawasan pesisir Demak, Jawa Tengah. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dan pemulihan lingkungan dapat dirancang untuk saling mendukung apabila dikelola secara tepat.
Transformasi berikutnya diarahkan pada penguatan rantai pasok dan industri pengolahan. Indonesia dinilai perlu meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengembangan produk olahan, diversifikasi pasar, inovasi teknologi, dan penguatan hubungan antara pembudidaya, industri, serta konsumen.
Rumput laut menjadi salah satu contoh komoditas dengan peluang hilirisasi yang luas. Selain dipasarkan sebagai bahan mentah, rumput laut dapat diolah menjadi agar, karagenan, alginat, bahan pangan fungsional, kosmetik, hingga material berbasis hayati yang lebih ramah lingkungan. Peluang serupa juga terbuka bagi komoditas udang, ikan, dan kerang.
Melalui pengembangan industri yang terintegrasi, Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing produk olahan dan memperkuat posisinya di pasar global.
Pembudidaya Kecil Harus Menjadi Bagian dari Kemajuan
Aspek pemerataan manfaat menjadi perhatian penting dalam gagasan transformasi akuakultur yang disampaikan Prof. Rokhmin. Ia menilai modernisasi sektor budidaya harus memberikan kesempatan yang lebih besar kepada pembudidaya kecil untuk berkembang, bukan justru membuat mereka semakin tersisih dalam persaingan industri.
Penguatan koperasi, perluasan akses pembiayaan digital, perlindungan melalui asuransi, serta kemitraan usaha yang transparan menjadi beberapa langkah yang dapat mendukung tujuan tersebut. Kemitraan antara pembudidaya dan perusahaan juga perlu dilandasi kontrak yang adil, kepastian pasar, serta transfer teknologi.
Di sisi lain, keterlibatan perempuan dalam pengolahan dan pemasaran produk akuatik serta peran generasi muda dalam mengembangkan usaha berbasis teknologi digital perlu diperluas. Dengan demikian, pertumbuhan akuakultur dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih merata di tingkat masyarakat.
Pendekatan ini sekaligus mempertegas bahwa keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada efisiensi produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem usaha yang inklusif.
Menuju Akuakultur yang Produktif, Inklusif, dan Berkelanjutan
Menutup pemaparannya, Prof. Rokhmin menggarisbawahi tiga arah utama pembangunan akuakultur Indonesia. Pertama, akuakultur harus ditempatkan sebagai salah satu pilar penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan akuatik dunia. Kedua, pengembangannya perlu menggabungkan produktivitas dan daya saing dengan prinsip inklusivitas serta keberlanjutan lingkungan. Ketiga, manfaat ekonomi sektor ini harus dirasakan secara luas, mulai dari pembudidaya dan pekerja hingga masyarakat dan perekonomian nasional.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan global dan tuntutan agar kegiatan produksi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Bagi Indonesia, tantangannya bukan semata-mata meningkatkan volume produksi, melainkan membangun sistem akuakultur yang mampu menghasilkan nilai tambah, memperkuat posisi pelaku usaha lokal, dan menjaga sumber daya akuatik untuk generasi mendatang.
Melalui ICAI 2026, MAI mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku industri, dan komunitas pembudidaya. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat penerapan inovasi, memperluas hilirisasi, dan membangun industri akuakultur nasional yang tangguh serta berdaya saing global.
Transformasi akuakultur pada akhirnya menjadi bagian dari agenda pembangunan Indonesia yang lebih luas: mewujudkan ketahanan pangan, memperluas kesejahteraan masyarakat, menjaga keberlanjutan ekosistem, dan memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Akuakultur dinilai berpotensi mendukung ketersediaan pangan bergizi, membuka lapangan kerja, mendorong pengembangan industri berbasis sumber daya akuatik, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan inovasi dan teknologi, sektor ini juga berpeluang berkontribusi terhadap pengembangan produk farmasi, energi, dan berbagai bahan baku industri masa depan.
Akuakultur Mengubah Lanskap Pangan Dunia
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menekankan bahwa perkembangan akuakultur telah mengubah peta produksi pangan akuatik dunia. Ia merujuk pada laporan FAO The State of World Fisheries and Aquaculture 2026, yang dalam materi presentasinya disebut mencatat produksi perikanan dan akuakultur global sebesar 235 juta ton pada 2024.
Untuk pertama kalinya, akuakultur melampaui perikanan tangkap dalam produksi hewan akuatik, dengan kontribusi sekitar 103 juta ton atau 53 persen dari total produksi yang dirujuk.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa budidaya akuatik semakin menentukan kemampuan dunia memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Ke depan, kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence), Internet of Things (IoT), robotika, blockchain, dan rekayasa genom dapat memperluas kemampuan sektor ini dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta kualitas hasil produksi.
Prof. Rokhmin juga menyoroti peluang pengembangan komoditas pangan yang tidak terbatas pada ikan, udang, dan organisme akuatik lainnya. Ia menyinggung riset budidaya padi toleran salinitas sebagai ilustrasi bagaimana inovasi ilmiah dapat memperluas pemanfaatan lingkungan perairan untuk mendukung diversifikasi pangan. Klaim mengenai praktik budidaya padi di air laut tetap perlu merujuk pada penelitian spesifik agar tidak menyamakan padi toleran salinitas dengan padi yang sepenuhnya dibudidayakan menggunakan air laut.
Potensi Besar Indonesia Membutuhkan Pembenahan Sistem
Indonesia memiliki sumber daya perikanan dan wilayah budidaya yang sangat besar. Dalam presentasinya, Prof. Rokhmin menyebut produksi perikanan nasional mencapai 26,26 juta ton pada 2025, dengan nilai ekspor sebesar US$6,27 miliar.
Namun, besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan dan daya saing industri. Sejumlah persoalan masih menjadi tantangan, mulai dari produktivitas usaha tradisional, mahalnya pakan, risiko penyakit, keterbatasan akses pembiayaan, hingga belum optimalnya integrasi antara kegiatan produksi dan pengolahan.
Menurut Prof. Rokhmin, keberhasilan pembangunan akuakultur tidak cukup diukur melalui volume produksi. Indikator yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan sektor tersebut meningkatkan pendapatan pembudidaya, menciptakan kesempatan kerja, memperkuat ekonomi nasional, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pandangan ini menempatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas ekosistem sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda peningkatan produksi.
Tujuh Transformasi untuk Membangun Akuakultur Berdaya Saing
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Rokhmin menawarkan tujuh transformasi strategis sebagai arah pengembangan akuakultur Indonesia. Gagasan tersebut menekankan pentingnya keterpaduan antara aspek ekologis, teknologi, industri, kelembagaan, dan kesejahteraan pelaku usaha.
Salah satu prioritasnya adalah pengembangan budidaya berdasarkan daya dukung lingkungan dan tata ruang yang disusun melalui kajian ilmiah. Pemanfaatan wilayah pesisir harus mempertimbangkan kesehatan ekosistem, kualitas perairan, serta kemampuan lingkungan menopang kegiatan produksi dalam jangka panjang.
Ia mencontohkan upaya integrasi rehabilitasi mangrove dan budidaya perikanan yang bertanggung jawab di kawasan pesisir Demak, Jawa Tengah. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dan pemulihan lingkungan dapat dirancang untuk saling mendukung apabila dikelola secara tepat.
Transformasi berikutnya diarahkan pada penguatan rantai pasok dan industri pengolahan. Indonesia dinilai perlu meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengembangan produk olahan, diversifikasi pasar, inovasi teknologi, dan penguatan hubungan antara pembudidaya, industri, serta konsumen.
Rumput laut menjadi salah satu contoh komoditas dengan peluang hilirisasi yang luas. Selain dipasarkan sebagai bahan mentah, rumput laut dapat diolah menjadi agar, karagenan, alginat, bahan pangan fungsional, kosmetik, hingga material berbasis hayati yang lebih ramah lingkungan. Peluang serupa juga terbuka bagi komoditas udang, ikan, dan kerang.
Melalui pengembangan industri yang terintegrasi, Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing produk olahan dan memperkuat posisinya di pasar global.
Pembudidaya Kecil Harus Menjadi Bagian dari Kemajuan
Aspek pemerataan manfaat menjadi perhatian penting dalam gagasan transformasi akuakultur yang disampaikan Prof. Rokhmin. Ia menilai modernisasi sektor budidaya harus memberikan kesempatan yang lebih besar kepada pembudidaya kecil untuk berkembang, bukan justru membuat mereka semakin tersisih dalam persaingan industri.
Penguatan koperasi, perluasan akses pembiayaan digital, perlindungan melalui asuransi, serta kemitraan usaha yang transparan menjadi beberapa langkah yang dapat mendukung tujuan tersebut. Kemitraan antara pembudidaya dan perusahaan juga perlu dilandasi kontrak yang adil, kepastian pasar, serta transfer teknologi.
Di sisi lain, keterlibatan perempuan dalam pengolahan dan pemasaran produk akuatik serta peran generasi muda dalam mengembangkan usaha berbasis teknologi digital perlu diperluas. Dengan demikian, pertumbuhan akuakultur dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih merata di tingkat masyarakat.
Pendekatan ini sekaligus mempertegas bahwa keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada efisiensi produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem usaha yang inklusif.
Menuju Akuakultur yang Produktif, Inklusif, dan Berkelanjutan
Menutup pemaparannya, Prof. Rokhmin menggarisbawahi tiga arah utama pembangunan akuakultur Indonesia. Pertama, akuakultur harus ditempatkan sebagai salah satu pilar penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan akuatik dunia. Kedua, pengembangannya perlu menggabungkan produktivitas dan daya saing dengan prinsip inklusivitas serta keberlanjutan lingkungan. Ketiga, manfaat ekonomi sektor ini harus dirasakan secara luas, mulai dari pembudidaya dan pekerja hingga masyarakat dan perekonomian nasional.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan global dan tuntutan agar kegiatan produksi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Bagi Indonesia, tantangannya bukan semata-mata meningkatkan volume produksi, melainkan membangun sistem akuakultur yang mampu menghasilkan nilai tambah, memperkuat posisi pelaku usaha lokal, dan menjaga sumber daya akuatik untuk generasi mendatang.
Melalui ICAI 2026, MAI mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku industri, dan komunitas pembudidaya. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat penerapan inovasi, memperluas hilirisasi, dan membangun industri akuakultur nasional yang tangguh serta berdaya saing global.
Transformasi akuakultur pada akhirnya menjadi bagian dari agenda pembangunan Indonesia yang lebih luas: mewujudkan ketahanan pangan, memperluas kesejahteraan masyarakat, menjaga keberlanjutan ekosistem, dan memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
MAI Connect · Masyarakat Akuakultur Indonesia